Hemat bukanlah pelit. Hemat memiliki konotasi yang positif dan memiliki tujuan yang positif juga tanpa harus `menyiksa’ diri berlebihan.Cukup. Dua bulan lalu Heri menikahkan anak perempuannya. Sang anak dan calon menantu sebenarnya sudah menentukan tempat yang akan mereka gunakan untuk merayakan pernikahan, yaitu di sebuah gedung. Namun, karena permintaan dari warga kampung setempat, Heri juga mengadakan pesta tiga hari tiga malam untuk sang anak bagi warga kampung di rumahnya. Sang anak dan calon menantu setuju saja asalkan tidak mengganggu kocek mereka karena dana mereka sudah difokuskan untuk menikah di gedung dan rencana lainnya. Jadi, dana harus keluar dari kocek Heri, yang penghasilannya tidak tetap dari membantu orang lain dalam urusan administrasi pelaksanaan proyek-proyek tertentu. Heri, “memutar otak” untuk bergerilya mencari pinjaman guna merayakan pesta pernikahan anaknya. Ia mendatangi beberapa kerabat dan kenalan untuk mendapatkan pinjaman. Hasilnya? Ia hanya mendapatkan separuh dari anggaran yang dibutuhkan. Pesta tiga hari tiga malam tersebutpun akhirnya bisa dilakukan dari uang pinjaman kiri kanan dan menjual motornya. Setelah pesta, Heri harus memutar otak lagi bagaimana membayar hutang yang menumpuk. Hidupnya tidak tenang. Anda benar. Masalah ini sebenarnya tidak harus ada jika Heri mau hidup cukup tanpa harus menjaga `gengsi’ untuk mengikuti kemauan orang-orang sekitarnya. Pelajaran dari kasus Heri: hiduplah cukup sesuai dengan penghasilan yang kita miliki agar kita bisa hidup tenang
Tujuan. Selain hidup cukup (tidak berlebihan), untuk hidup hemat kita perlu memiliki tujuan dalam mengelola keuangan kita. Dengan tujuan ini, kita akan lebih termotivasi untuk hidup hemat. Tujuan ini juga membantu kita dalam memutuskan kemana saja penghasilan kita harus kita alokasikan, pos-pos keuangan apa saja yang perlu diisi, dikurangi ataupun ditambah. Jadi, tujuan akan membantu kita untuk melangkah dengan bijak dalam mengeluarkan dana. Namun, kita juga harus menentukan tujuan dengan bijak. Tetapkan tujuan yang tidak terlalu tinggi ibarat pungguk merindukan bulan. Tetapkan tujuan yang kiranya wajar untuk kita capai dalam kurun waktu tertentu yang kita tetapkan sendiri (attainability) . Selain itu, kita juga harus bersikap konsisten dalam mengayun langkah mencapai tujuan tersebut. Pastikan tujuan itu benar-benar hal yang ingin kita raih, sehingga kita tidak mudah berganti tujuan yang bisa mengacaukan anggaran dan rencana keuangan kita. Jika memang tujuan ini menuntut kita untuk mengubah kebiasaan tertentu, kita perlu lebih fokus lagi dalam usaha kita untuk berubah, dan kita perlu juga melakukan hal ini secara konsisten untuk tercapainya tujuan yang kita tetapkan.
Anggaran. Setelah tujuan kita tetapkan, kita bisa melangkah ke tahap berikutnya, yaitu membuat anggaran. Anggaran akan membantu kita sebagai tuntunan dalam membuat keputusan keuangan yang bijak. Dengan anggaran, pengeluaran kita bisa lebih terkendali. Anggaran juga membantu kita untuk melihat dimana saja kebocoran-kebocoran keuangan yang terjadi, sehingga akan lebih mudah bagi kita untuk memperbaikinya di kemudian hari. Kita juga bisa memanuver tindakan kita jika kita bisa menghemat di pos anggaran tertentu, sehingga kita bisa melakukan subsidi silang atau subsidi untuk keperluan lainnya yang mendadak yang tidak ada dalam pos anggaran kita. Anggaran ibarat peta keuangan bagi kita. Jika kita tersesat, kita bisa sadar kalau kita tersesat dan bisa melihat kembali peta tersebut untuk mengkoreksi langkah kita sehingga bisa kembali ke jalan yang sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan, atau mencari jalan lain sebagai jalan alternatif namun tetap mengarah pada tujuan semula. Yang perlu diingat, dalam menyusun anggaran, alokasikan dana yang cukup (jangan kurang, tetapi juga jangan terlalu berlebihan). Jika ternyata masih ada kekurangan, kita bisa memikirkan untuk mencari penghasilan tambahan dengan usaha dari rumah atau usaha sambilan yang bisa dikerjakan setelah jam kantor atau pada akhir pekan.
YANG BISA DIHEMA
Lalu, apa saja yang bisa kita hemat, agar tujuan cepat tercapai dan anggaran bisa diterapkan dengan konsisten.
Hiburan. Semua orang pasti butuh hiburan setelah bekerja seminggu penuh atau sebulan penuh. Jika kita biasanya pergi bersama teman ataupun keluarga ke kafe, restoran favorit atau ke tempat hiburan lainnya setiap dua hari sekali, atau seminggu sekali, mungkin kita bisa memikirkan untuk melakukannya dengan frekuensi yang lebih rendah: dari tiga hari sekali menjadi seminggu sekali, atau dari seminggu sekali menjadi dua kali dalam sebulan atau satu kali dalam sebulan. Selain frekuensi, kita juga bisa menghemat dalam jumlah dana yang dialokasikan. Jika sekali pergi ke restoran kita mengalokasikan dana Rp. 100.000, kita bisa mencoba untuk mengurangi menjadi Rp. 75,000? Jika kita hitung di akhir bulan, kita akan kaget berapa banyak yang bisa kita hemat untuk keperluan yang lebih penting dan mendesak.
Pakaian dan Perhiasan. Memang senang untuk memakai pakaian dan perhiasan bermerek yang harganya juga `bermerek’. Jika memang kita adalah orang yang senang dengan pakaian atau perhiasan bermerek, pastikan apa yang Anda beli tidak sekali pakai saja, tetapi bisa dipadu padankan dengan pakaian dan perhiasan lain, sehingga manfaatnya lebih tinggi. Selain itu, frekuensi untuk membeli perhiasan bermerek bisa kita kurangi. Jika tadinya kita membeli pakaian sebulan sekali, mungkin kita bisa menguranginya menjadi tiap dua bulan, atau tiga bulan sekali. Selain frekuensi kita juga bisa memilih waktu pembeliannya. Biasanya barang-barang bermerek ada waktu `sale’ karena akan berganti musim atau berganti stok barang. Jadi, perhatikan waktu `sale’, karena membeli dengan potongan harga bisa menghemat cukup banyak.
Kebutuhan Harian. Selain makanan dan pakaian serta perhiasan, kita juga bisa melakukan penghematan dari kebutuhan rutin atau harian. Yang pertama adalah dari belanja rutin keperluan rumah tangga. Seringkali jika kita pergi ke supermarket atau ke pasar untuk belanja rutin, kita sering memasukan juga barang-barang yang tadinya tidak kita perlukan. Pastikan jika kita pergi belanja, kita membawa daftar barang-barang yang benar-benar kita perlukan, untuk menghindari terjadinya kebocoran anggaran. Selain belanja rumah tangga, yang bisa kita hemat dari kebutuhan sehari-hari adalah rekening listrik ataupun air. Jika memang ada lampu atau alat listrik yang tidak dipakai, pastikan bahwa alat listri atau lampu tersebut dalam keadaan mati, misalnya: kamar mandi, gudang, garasi, dapur, atau ruang-ruang lain yang pemakaiannya hanya sebentar saja. Demikian pula dengan AC dan kipas angin yang tidak dipergunakan, sebaiknya kita matikan saja. Di akhir bulan kita juga bisa tersenyum dengan penghematan yang berhasil kita lakukan, sehingga dana bisa dialokasikan untuk keperluan lain.
Hidup hemat perlu tujuan, rencana dan konsistensi dalam pelaksanaannya. Namun, jika ini bisa kita lakukan, segala sesuatu yang kita inginkan pasti berada dalam jangkauan kita. Selamat hidup hemat dan selamat menikmati hidup yang lebih berkualitas. Sukses untuk kita semua