Posted by: mahfud07 | November 17, 2008

BAGAIMANA HIDUP HEMAT?

Hemat bukanlah pelit. Hemat memiliki konotasi yang positif dan memiliki tujuan yang positif juga tanpa harus `menyiksa’ diri berlebihan.Cukup. Dua bulan lalu Heri menikahkan anak perempuannya. Sang anak dan calon menantu sebenarnya sudah menentukan tempat yang akan mereka gunakan untuk merayakan pernikahan, yaitu di sebuah gedung. Namun, karena permintaan dari warga kampung setempat, Heri juga mengadakan pesta tiga hari tiga malam untuk sang anak bagi warga kampung di rumahnya. Sang anak dan calon menantu setuju saja asalkan tidak mengganggu kocek mereka karena dana mereka sudah difokuskan untuk menikah di gedung dan rencana lainnya. Jadi, dana harus keluar dari kocek Heri, yang penghasilannya tidak tetap dari membantu orang lain dalam urusan administrasi pelaksanaan proyek-proyek tertentu. Heri, “memutar otak” untuk bergerilya mencari pinjaman guna merayakan pesta pernikahan anaknya. Ia mendatangi beberapa kerabat dan kenalan untuk mendapatkan pinjaman. Hasilnya? Ia hanya mendapatkan separuh dari anggaran yang dibutuhkan. Pesta tiga hari tiga malam tersebutpun akhirnya bisa dilakukan dari uang pinjaman kiri kanan dan menjual motornya. Setelah pesta, Heri harus memutar otak lagi bagaimana membayar hutang yang menumpuk. Hidupnya tidak tenang. Anda benar. Masalah ini sebenarnya tidak harus ada jika Heri mau hidup cukup tanpa harus menjaga `gengsi’ untuk mengikuti kemauan orang-orang sekitarnya. Pelajaran dari kasus Heri: hiduplah cukup sesuai dengan penghasilan yang kita miliki agar kita bisa hidup tenang

Tujuan. Selain hidup cukup (tidak berlebihan), untuk hidup hemat kita perlu memiliki tujuan dalam mengelola keuangan kita. Dengan tujuan ini, kita akan lebih termotivasi untuk hidup hemat. Tujuan ini juga membantu kita dalam memutuskan kemana saja penghasilan kita harus kita alokasikan, pos-pos keuangan apa saja yang perlu diisi, dikurangi ataupun ditambah. Jadi, tujuan akan membantu kita untuk melangkah dengan bijak dalam mengeluarkan dana. Namun, kita juga harus menentukan tujuan dengan bijak. Tetapkan tujuan yang tidak terlalu tinggi ibarat pungguk merindukan bulan. Tetapkan tujuan yang kiranya wajar untuk kita capai dalam kurun waktu tertentu yang kita tetapkan sendiri (attainability) . Selain itu, kita juga harus bersikap konsisten dalam mengayun langkah mencapai tujuan tersebut. Pastikan tujuan itu benar-benar hal yang ingin kita raih, sehingga kita tidak mudah berganti tujuan yang bisa mengacaukan anggaran dan rencana keuangan kita. Jika memang tujuan ini menuntut kita untuk mengubah kebiasaan tertentu, kita perlu lebih fokus lagi dalam usaha kita untuk berubah, dan kita perlu juga melakukan hal ini secara konsisten untuk tercapainya tujuan yang kita tetapkan.

 Anggaran. Setelah tujuan kita tetapkan, kita bisa melangkah ke tahap berikutnya, yaitu membuat anggaran. Anggaran akan membantu kita sebagai tuntunan dalam membuat keputusan keuangan yang bijak. Dengan anggaran, pengeluaran kita bisa lebih terkendali. Anggaran juga membantu kita untuk melihat dimana saja kebocoran-kebocoran keuangan yang terjadi, sehingga akan lebih mudah bagi kita untuk memperbaikinya di kemudian hari. Kita juga bisa memanuver tindakan kita jika kita bisa menghemat di pos anggaran tertentu, sehingga kita bisa melakukan subsidi silang atau subsidi untuk keperluan lainnya yang mendadak yang tidak ada dalam pos anggaran kita. Anggaran ibarat peta keuangan bagi kita. Jika kita tersesat, kita bisa sadar kalau kita tersesat dan bisa melihat kembali peta tersebut untuk mengkoreksi langkah kita sehingga bisa kembali ke jalan yang sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan, atau mencari jalan lain sebagai jalan alternatif namun tetap mengarah pada tujuan semula. Yang perlu diingat, dalam menyusun anggaran, alokasikan dana yang cukup (jangan kurang, tetapi juga jangan terlalu berlebihan). Jika ternyata masih ada kekurangan, kita bisa memikirkan untuk mencari penghasilan tambahan dengan usaha dari rumah atau usaha sambilan yang bisa dikerjakan setelah jam kantor atau pada akhir pekan.

 YANG BISA DIHEMA

Lalu, apa saja yang bisa kita hemat, agar tujuan cepat tercapai dan anggaran bisa diterapkan dengan konsisten.

Hiburan. Semua orang pasti butuh hiburan setelah bekerja seminggu penuh atau sebulan penuh. Jika kita biasanya pergi bersama teman ataupun keluarga ke kafe, restoran favorit atau ke tempat hiburan lainnya setiap dua hari sekali, atau seminggu sekali, mungkin kita bisa memikirkan untuk melakukannya dengan frekuensi yang lebih rendah: dari tiga hari sekali menjadi seminggu sekali, atau dari seminggu sekali menjadi dua kali dalam sebulan atau satu kali dalam sebulan. Selain frekuensi, kita juga bisa menghemat dalam jumlah dana yang dialokasikan. Jika sekali pergi ke restoran kita mengalokasikan dana Rp. 100.000, kita bisa mencoba untuk mengurangi menjadi Rp. 75,000? Jika kita hitung di akhir bulan, kita akan kaget berapa banyak yang bisa kita hemat untuk keperluan yang lebih penting dan mendesak.

Pakaian dan Perhiasan. Memang senang untuk memakai pakaian dan perhiasan bermerek yang harganya juga `bermerek’. Jika memang kita adalah orang yang senang dengan pakaian atau perhiasan bermerek, pastikan apa yang Anda beli tidak sekali pakai saja, tetapi bisa dipadu padankan dengan pakaian dan perhiasan lain, sehingga manfaatnya lebih tinggi. Selain itu, frekuensi untuk membeli perhiasan bermerek bisa kita kurangi. Jika tadinya kita membeli pakaian sebulan sekali, mungkin kita bisa menguranginya menjadi tiap dua bulan, atau tiga bulan sekali. Selain frekuensi kita juga bisa memilih waktu pembeliannya. Biasanya barang-barang bermerek ada waktu `sale’ karena akan berganti musim atau berganti stok barang. Jadi, perhatikan waktu `sale’, karena membeli dengan potongan harga bisa menghemat cukup banyak.

Kebutuhan Harian. Selain makanan dan pakaian serta perhiasan, kita juga bisa melakukan penghematan dari kebutuhan rutin atau harian. Yang pertama adalah dari belanja rutin keperluan rumah tangga. Seringkali jika kita pergi ke supermarket atau ke pasar untuk belanja rutin, kita sering memasukan juga barang-barang yang tadinya tidak kita perlukan. Pastikan jika kita pergi belanja, kita membawa daftar barang-barang yang benar-benar kita perlukan, untuk menghindari terjadinya kebocoran anggaran. Selain belanja rumah tangga, yang bisa kita hemat dari kebutuhan sehari-hari adalah rekening listrik ataupun air. Jika memang ada lampu atau alat listrik yang tidak dipakai, pastikan bahwa alat listri atau lampu tersebut dalam keadaan mati, misalnya: kamar mandi, gudang, garasi, dapur, atau ruang-ruang lain yang pemakaiannya hanya sebentar saja. Demikian pula dengan AC dan kipas angin yang tidak dipergunakan, sebaiknya kita matikan saja. Di akhir bulan kita juga bisa tersenyum dengan penghematan yang berhasil kita lakukan, sehingga dana bisa dialokasikan untuk keperluan lain.

Hidup hemat perlu tujuan, rencana dan konsistensi dalam pelaksanaannya. Namun, jika ini bisa kita lakukan, segala sesuatu yang kita inginkan pasti berada dalam jangkauan kita. Selamat hidup hemat dan selamat menikmati hidup yang lebih berkualitas. Sukses untuk kita semua

Posted by: mahfud07 | April 9, 2008

Kelahiran anak pertamaku

Kelahiran M.Arfan Firdaus

 Alhamdulillah akhirnya anak ku yang pertama lahir di RS Kasih Bunda Gn.Guntur Balikpapan ditangani Dr Tedy, spog, hari Selasa, 04 Maret 2008.

Sebenarnya 3 hari sebelumnya, sabtu malam, istriku mulai merasakan kontraksi…namun keesokan harinya saya bawa ke RS. Ibnu Sina hasil pemeriksaan bidan kontraksinya baru pembukaan 2..kalo muncul pun antara 15-30 menit sekali.

Akhirnya kami pun disuruh pulang kembali, menunggu esok harinya,

Keesokan harinya hari senin pukul 14:00 siang kami kembali ke RS.Ibnu Sina, dan diagnosa bidan ternyata kontraksi masih belum menunjukna kamajuan yang berarti antara pembukaan dua dan tiga

Saat itu bidang di Ibnu sina memutuskan untuk memerikan obat rangsangan, setelah obat diberikan kontraksipun makin bertambah dan saya melihat istri saya sangat kesakitan.

Namun hingga malam harinya sekitar jam 21:00 istri saya di rujuk ke RS.Kasih Bunda, dengan alasan di RS.Ibnu Sina kurang memadai fasilitasnya bila terjadi persalinan tidak normal pada istri saya, karena menurut pemerikasan bayi kami ukurannya lebih besar dari keadaan nomal

Sesampai di Kasih Bunda kontraksi makin sering, tetapi pembukaan masing juga berjalan lambat, Hingga malam pukul 00:00 masing pembukaan 6.

Bidan menyarankan untuk persalinanya ditangani oleh dokter, kami pun mengiyakanya,

Pada akhirnya denganpertolongan Dr.Teddy pada pukul 04:47 anak kami lahir dengan berat 3,8 Kg.

Hhhmmmmmm…….Akhirnya saya menjadi seorang BAPAK beneran…Bahagia Rasanya……………

Posted by: mahfud07 | April 9, 2008

Ciri-ciri Wanita Sholehah

Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t.

Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami

Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut:

1. Taat kepada Allah dan RasulNya

Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga

2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
- Tidak cemberut di hadapan suami.
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami.
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
- Senantiasa memelihara diri, kebersihan fisik & kecantikannya serta rumah tangga

FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA
—————————————-

Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam. Bukanlah faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.

Faktor-faktor tersebut ialah:

1) Lupa mengingat Allah

Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: artinya:

Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.

Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya:
Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan.” (Riwayat Tarmizi)

Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.

2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia

Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda.
Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An’am: artinya:

Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh karena itu tidakkah kamu berfikir.

3) Mudah terpedaya dengan syahwat
4) Lemah iman
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.

Ad-dunya mata’, khoirul mata’ al mar’atus sholich
Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.

Posted by: mahfud07 | February 13, 2008

Cara Berwudhu yang Benar

Berwudlu’ adalah salah satu dari syarat sahnya shalat, sebagaimana hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam sabda beliau berikut: “Tidak diterima shalat salah seorang dari kalian, apabila dia berhadats (yakni batal wudlunya, pent), sehingga dia berwudlu.” (HR. Muslim dalam Shahih nya halaman 459 juz 3 Bab Wujubut Thaharah lis Shalah no hadits 225 / 2, dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu ). Dengan berita dari Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam seperti ini, kita telah mengetahui bahwa berwudlu adalah amalan ibadah yang sangat penting untuk dipahami dan diamalkan dengan benar.  BEBERAPA KETENTUAN DI SEPUTAR IBADAH Karena wudlu’ merupakan bagian terpenting dari ibadah, maka pelaksanaannya harus pula dengan menunaikan ketentuan-ketentuan utama dari ibadah. Ketentuan-ketentuan utama tersebut adalah sebagai berikut: 1). Amalan itu harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata. Hal ini berkenaan dengan ketentuan hati dalam meniatkannya. Sebab amalan ibadah yang tidak diniatkan untuk Allah semata, maka amalan itu akan sia-sia dan tidak ada nilainya sama sekali. Allah Ta`ala menegaskan ketentuan ini dalam firman-Nya sebagai berikut : “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu (hai Muhammad) dan kepada Nabi-Nabi sebelummu, bahwa bila engkau menyekutukan Allah dengan lain-Nya dalam ibadahmu, niscaya akan batallah amalanmu. Dan sungguh engkau akan termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi.” ( Az-Zumar : 65) 2). Amalan itu haruslah dilakukan dengan tuntunan dari Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam . Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam sabda beliau sebagimana berikut ini: “Barang siapa beramal dengan suatu amalan yang bukan dari ajaran kami, maka dia itu tertolak amalannya”. (HR. Muslim ) Maka dengan dua ketentuan tersebut, berwudlu haruslah dengan membersihkan hati kita dari segala niat untuk selain Allah serta memurnikan niat kita berwudlu’ hanya untuk Allah semata, dan kita juga harus mengerti apa yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam dalam kaitannya dengan seputar amalan wudlu tersebut. Dengan ketentuan tersebut, kita dilarang ikut-ikutan dalam mengamalkan kewajiban berwudlu, tetapi harus memastikan secara ilmiah bahwa cara berwudlu kita itu memang telah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam . KEUTAMAAN BERWUDLU’ BAGI KAUM MU’MININ Agar kita menjadi lebih bersemangat mengamalkan tuntunan berwudlu dengan benar dalam rangka beribadah kepada Allah Ta`ala, perlu juga kita mengerti beberapa keutamaan amalan wudlu’ di sisi Allah Ta`ala. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah memberitakan beberapa keutamaan itu dalam sabda-sabda beliau berikut ini: “Sesungguhnya ummatku akan datang di hari kiamat dalam keadaan bersinar anggota tubuhnya karena bekas terkena air wudlu. Maka barang siapa dari kalian ingin memanjangkan sinar anggota tubuhnya yang terkena wudlu, hendaklah dia lakukan.” (HR. Muslim dalam Shahih nya juz 3 halaman 483 bab Istihbab Ithalatul Ghurrah wat Tahjil fil Wudlu’ , dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu . Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih nya Kitabul Wudlu’ bab Fadl-lul Wudlu’ wal Ghurrul Muhajjalin min Aatsaril Wudlu’ dengan lafadh yang sedikit berbeda).

Pengertian “ memanjangkan sinar anggota tubuhnya yang terkena wudlu ”, ialah bahwa ketika berwudlu membasuh dengan air wudlu anggota tubuhnya lebih panjang dari batas minimal ketentuan membasuh anggota tubuh itu. Misalnya batas minimal membasuh kedua tangan adalah kedua siku. Maka dalam rangka memanjangkan sinar anggota tubuh yang terkena air wudlu itu, diperbolehkan memanjangkannya sampai ke ketiak. Demikian pula batas membasuh kedua telapak kaki adalah kedua mata kaki. Maka dalam rangka tujuan yang sama, boleh membasuhnya sampai ke lutut. Demikian dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juz 3 hal. 482. Juga Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang Muslim berwudlu, kemudian dia melakukannya dengan sebaik-baiknya, kemudian setelah itu dia menunaikan shalat, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang terjadi di masa antara shalatnya itu dengan shalat berikutnya.” (HR. Muslim dalam Shahih nya juz 3 halaman 464 no hadits 227/5 bab Kitabut Thaharah bab Fadllul Wudlu’ was Shalah Aqibahu , dari Utsman bin Affan radliyallahu `anhu ).

Juga beliau bersabda: “Barangsiapa berwudlu, dan ia menjalankannya dengan baik, niscaya akan keluar dosa-dosanya dari jasadnya, sampaipun akan keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim dalam Shahih nya juz 3 Kitabut Thaharah bab Wujub Isti’ab Jami’i Ajza’Mahallait Thaharah , dari Utsman bin Affan radliyallahu `anhu ). Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat shahih dari sabda Nabi shallallahu `alaihi wa sallam yang menerangkan betapa besar keutamaan wudlu’ yang dilakukan oleh seorang Mukmin apabila wudlu tersebut diamalkan dengan benar. Di samping dapat menghapuskan dosa-dosa kita, keutamaan berwudlu lainnya ialah bahwa Ahlul Wudlu’ (yakni orang yang suka berwudlu’) akan sangat dikenali oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam di hari kiamat dengan sinar kemuliaan dari anggota tubuhnya yang terkena air wudlu. Tentu orang yang dikenali oleh beliau sebagai ummat beliau di hari kiamat, akan disyafaati oleh beliau dengan ijin Allah Ta`ala.

TUNTUNAN BERWUDLU’ YANG BENAR Agar kita dapat menjalankan kewajiban berwudlu’ dengan benar dan baik, sehingga kita memperoleh segenap keutamaan berwudlu’ sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam , maka kita wajib mempelajari bagaimana cara berwudlu’ yang benar. Berikut ini kami bawakan riwayat-riwayat tuntunan berwudlu’ dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam serta penjelasan para Ulama’ tentangnya. Sebelum kita membahas tuntunan wudlu’ sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi kita, perlu kita memahami firman Allah Ta`ala yang menjelaskan cara berwudlu’ sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’idah 6: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian berdiri untuk menunaikan shalat, maka cucilah wajah kalian dan kedua tangan kalian sampai ke kedua siku. Dan usaplah dengan air wudlu kepala kalian. Dan cucilah kedua telapak kaki kalian sampai ke kedua mata kaki.” ( Al-Maidah : 6)

Para Ulama’ menyatakan bahwa apa yang disebutkan oleh Allah Ta`ala di ayat ini adalah amalan yang wajib dalam berwudlu’. Demikian diterangkan oleh Al-Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya dalam Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an jilid 3 halaman 2080. Adapun niat, itu sudah termasuk kewajiban berwudlu yang disebutkan oleh ayat ini, ketika Allah menyatakan dalam firman-Nya (yang artinya): “ Dan apabila kamu berdiri untuk shalat, maka cucilah wajah kalian .” Jadi mencuci wajah dan selanjutnya adalah dalam rangka menunaikan shalat. Ini adalah isyarat dari Allah Ta`ala tentang wajibnya niat untuk melaksanakan wudlu’. Demikian diterangkan oleh Al-Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir jilid 2 halaman 18. Sedangkan amalan berwudlu’ yang lainnya adalah merupakan adab dan sunnah, sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Al-Imam Al-Qurtubi. Demikianlah keterangan Allah Ta`ala dalam firman-Nya di Al-Qur’an tentang cara berwudlu’. Adapun keterangan dalam hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam tentang tuntunan berwudlu’ secara lengkap adalah sebagai berikut: Dari Humran maula Utsman bin Affan radliyallahu `anhu memberitakan bahwa dia pernah melihat Utsman bin Affan meminta disediakan air wudlu. Kemudian beliau menuangkan dari bejana itu kepada kedua telapak tangannya sehingga mencucinya tiga kali. Kemudian beliau memasukkan telapak tangan kanannya ke dalam air itu guna mengambil air dengannya untuk berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung serta mengeluarkannya. Setelah itu beliau mencuci wajah beliau sebanyak tiga kali. Kemudian mencuci kedua tangannya sampai ke siku sebanyak tiga kali. Selanjutnya beliau mengusap kepalanya dengan air itu, dan setelah itu beliau mencuci kedua kakinya masing-masing sebanyak tiga kali. Kemudian setelah itu beliau menyatakan: “Aku melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berwudlu’ seperti wudlu’ku ini.” (HR. Bukhari dalam Shahih nya, Kitabul Wudlu’ Bab Al-Madlmadlah fil Wudlu’ hadits ke 164, lihat Fathul Bari juz 1 halaman 266 no hadits 164)

Abdullah bin Zaid radliyallahu `anhu ketika ditanya bagaimana cara wudlu’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam , maka beliau pun memperagakan bagaimana cara berwudlu’ Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dengan mencuci kedua telapak tangannya masing-masing dua kali. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung (serta mengeluarkannya, pent) sebanyak tiga kali. Setelah itu mencuci wajahnya tiga kali dan kemudian mencuci kedua tangannya sampai ke kedua sikunya masing-masing dua kali. Kemudian mengusap kepalanya dengan kedua telapak tangannya dengan cara meletakkan kedua telapak tangannya di bagian depan rambut kepalanya dan menggerakkan kedua telapak tangan itu ke bagian belakang kepalanya dan kembali lagi ke depan. Demikian beliau lakukan dalam mengusap kepala dan dilakukan hanya sekali, sebagaimana diterangkan demikian dalam Shahih Muslim Kitabut Thaharah Bab Shifatul Wudlu’ hadits ke 235, pent. Kemudian beliau mencuci kedua kaki beliau.” (HR. Bukhari dalam Shahih nya, Kitabul Wudlu’ Bab Mas-hur Ra’si Kullihi , hadits ke 185).

Riwayat Abdullah bin Zaid ini memberitakan bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mencuci kedua tangannya masing-masing dua kali. Sedangkan dalam riwayat Utsman bin Affan, beliau memberitakan bahwa mencuci tangan itu tiga kali. Bahkan dalam riwayat lain, Abdullah bin Zaid menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam membasuh anggota badannya dalam berwudlu, masing-masing dua kali. (HR. Bukhari hadits ke 158, Bab Al-Wudlu’ Marratain Marratain ). Juga Abdullah bin Abbas radliyallahu `anhuma menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berwudlu dengan membasuh anggota badannya masing-masing sekali. (HR. Bukhari hadits ke 157, Bab Al-Wudlu’ Marratan Marratan ). Maka dengan demikian, kewajiban membasuh anggota badan dalam berwudlu’ itu boleh sekali, atau dua kali, dan boleh juga tiga kali. Yang terpenting daripadanya ialah bila air wudlu’ itu dipastikan telah merata mengenai seluruh anggota badan yang wajib terkena air wudlu’ itu. Di samping itu dalam riwayat Abdullah bin Zaid di atas telah diberitakan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam mengusap kepala dengan air wudlu’. Yaitu dengan mengusapkan kedua telapak tangan yang telah dicelupkan ke dalam air wudlu’, dan diletakkan di bagian dahi paling atas. Kemudian kedua telapak tangan itu digerakkan ke arah kepala bagian belakang atau tengkuk, setelah itu dikembalikan kedua telapak tangan itu ke tempat semula (yaitu bagian depan kepala atau bagian atas dahi). Yang demikian itu dilakukan hanya sekali, bukan dua kali atau lebih. Demikianlah semestinya mengusap kepala dalam berwudlu’ sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam . Sedangkan ketentuan lain daripada wudlu’ itu ialah memulainya dari bagian kanan dari anggota badan yang dibasuh itu, setelah itu baru sebelah kiri. Karena hal ini telah diberitakan oleh A’isyah Ummul Mu’minin radliyallahu `anha bahwa: “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam itu senang memulai dengan bagian kanannya dalam memakai alas kaki, atau dalam bersisir, dan dalam bersuci, serta dalam segala urusannya (yang mulia, pent).” Demikian dalam hadits riwayat Bukhari dalam Shahih nya, Kitabul Wudlu’ Bab Tayammunu fil Wudlu’ wal Ghusli , hadits ke 168. Adapun permasalahan mengusap kedua daun telinga, maka dalam perkara ini telah diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dalam Sunan nya dalam Abwabut Thaharah Bab Ma Jaa’a annal Udzunain Minar Ra’si dari Abu Umamah radliyallahu `anhu hadits ke 37 yang memberitakan: “Nabi shallallahu `alaihi wa sallam berwudlu’, kemudian beliau mencuci wajahnya tiga kali, dan kedua tangannya tiga kali. Dan beliau mengusap kepalanya, dan beliau menyatakan: “Kedua telinga adalah bagian dari kepala (yakni bagian kepala yang harus diusap dengan air wudlu’, pent).” Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dalam Sunan nya dan Ibnu Majah dalam Sunan nya. Al-Imam Ahmad Syakir rahimahullah telah menerangkan panjang lebar tentang keshahihan hadits ini dan membantah segala keraguan tentang keshahihannya, dalam catatan kaki beliau terhadap Sunan At-Tirmidzi terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah cet. th. 1356 H / 1937 M. Juga Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menshahihkan hadits ini dalam catatan kaki beliau terhadap kitab Misykatul Mashabiih jilid 1 hal. 131 hadits ke 416. Selanjutnya, tentang cara mengusap kedua daun telinga itu adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud As-Sijistani dalam Sunan nya, Kitabut Thaharah Bab Al-Wudlu’ Tsalatsan Tsalatsan hadits ke 135 dari Amer bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya (yakni dari Abdullah bin Amer bin Al-Ash radliyallahu `anhuma , pent), memberitakan bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berwudlu’ (kemudian diceritakan wudlu’nya), kemudian diberitakan: “Beliau mengusap kepalanya, kemudian beliau memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam kedua lubang telinganya dan meletakkan ibu jari beliau di bagian punggung daun telinga beliau, sehingga beliau mengusap punggung daun telinga itu dengan ibu jari dan mengusap bagian dalam daun telinga itu dengan jari telunjuk beliau.” Jadi mengusap kedua daun telinga dilakukan setelah mengusap kepala dengan air wudlu’ dan tidak perlu mengambil air wudlu’ lagi untuk mengusap kedua telinga itu. Akan tetapi bergandengan pengusapannya setelah gerakan mengusap kepala. Kemudian permasalahan mengucap basmalah ketika akan memulai amalan wudlu’, maka hal ini telah diriwayatkan oleh Sa’ied bin Zaid bin Amer bin Nufail radliyallahu `anhu , bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Tidak sah wudlu’ seseorang bila tidak membaca bismillah padanya.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan nya, Abwabut Thaharah Bab Ma Jaa’a Fit Tasmiyah ‘indal Wudlu’ dari Said bin Zaid, juga diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi dengan lafadh yang sama, lihat As-Sunanul Kubra juz 1 Kitabut Thaharah Bab At-Tasmiyah ‘alal Wudlu hal. 43 dari Abu Said Al-Khudri radliyallahu `anhu ) Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Talkhisul Habir jilid 1 hal. 123 – 128 membawakan beberapa riwayat dan sanad hadits tersebut di atas, kemudian beliau menyatakan kesimpulannya: “Yang nyata dari segenap hadits-hadits tersebut, jadilah hadits ini mempunyai kekuatan sanad (yakni mempunyai keakuratan berita, pent) yang menunjukkan bahwa berita tentang sabda Nabi tersebut mempunyai asal usul (yakni nara sumbernya bisa dipercaya, pent). Abu Bakar bin Abi Syaibah telah berkata: “Telah pasti bagi kami bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda dengannya.” Dengan demikian, maka memulai wudlu’ dengan membaca bismillah adalah termasuk kewajiban wudlu’ berdasarkan hadits tersebut di atas. Demikian dinyatakan oleh dua orang Imam dari kalangan tabi`in, Ishaq bin Rahuyah dan Al-Hasan Al-Basri rahimahumullah . Al-Imam At-Tirmidzi memberitakan hal ini dalam Sunan nya dan Al-Mundziri dalam Targhib nya. Dalam menjalankan amalan wudlu’, diwajibkan pula untuk menyilang-nyilang jari jemari tangan dan kaki agar air wudlu’ itu sampai ke seluruh tangan dan kaki yang wajib dibasuh. Hal ini telah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam sabda beliau sebagai berikut ini: “Apabila kamu berwudlu’, maka silang-silangkanlah jari-jemari kedua tanganmu dan kedua kakimu.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan nya kitabut Thaharah jilid 1 bab Takhlilu Al-Ashabi`a halaman 57 hadits ke 39 dari Ibnu Abbas radliyallahu `anhu , juga Ibnu Majah dalam Sunan nya Kitabut Thaharah jilid 1 bab Takhlilu Al-Ashabi`a halaman 153 hadits ke 447 dan juga Ahmad dalam Musnad nya dari Ibnu Abbas radliyallahu `anhuma ).

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah telah menjelaskan dalam Talkhisul Habir jilid 1 hal. 165 bahwa Al-Imam Al-Bukhari telah menghasankan hadits ini. Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar jilid 1 hal. 191 menyatakan: “Hadits-hadits ini menunjukkan disyariatkannya menyilang-nyilangkan jari-jemari tangan dan kaki. Dan hadits-hadits dalam perkara bab ini saling menguatkan satu dengan lainnya sehingga sangat meyakinkan wajibnya perkara ini.” Adapun menyilang-nyilangkan jari-jemari pada jenggot dengan air wudlu dalam berwudlu’, maka yang demikian ini adalah salah satu sunnah dari amalan-amalan sunnah wudlu’. Berhubung apa yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan nya, Abwabut Thaharah Bab Ma Jaa’a fi Takhlilil Lihyah , hadits ke 31 dari riwayat Israil yang meriwayatkannya dari Amir bin Syaqiq. Beliau meriwayatkannya dari Abu Wa’il. Dan beliau meriwayatkannya dari Utsman bin Affan yang memberitakan bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menyilang-nyilang jenggot beliau (dalam berwudlu’, pent). Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah menjelaskan: “Muhammad bin Ismail berkata (yakni Al-Imam Al-Bukhari, pent): Hadits yang paling shahih dalam bab ini ialah yang diriwayatkan oleh Amir bin Syaqiq dari Abu Wa’il dari Utsman bin Affan.” Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar jilid 1 hal. 186 menjelaskan: “Yang benar bahwa hadits-hadits dalam bab ini setelah diyakini bahwa hadits-hadits tersebut dapat dijadikan dalil, bahwa hadits-hadits itu tidak menunjukkan wajibnya perbuatan tersebut.” Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah dalam Tuhfatul Ahwadzi jilid 1 hal. 129 menerangkan bahwa jumhur Ulama’ (yakni mayoritas Ulama’) berpandangan bahwa menyilang-nyilangkan air wudlu’ diantara jenggot adalah sunnah bila dalam berwudlu’, tetapi perbuatan tersebut adalah wajib dalam amalan mandi junub. Kemudian beliau menambahkan: “Aku katakan: pendapat yang paling mantap dan kuat menurut aku ialah pendapat kebanyakan Ulama’ tersebut, Wallahu Ta`ala A’lam .” Demikianlah kami nukilkan kepada pembaca sekalian, pendapat yang paling kuat menurut kami dengan melihat dalil-dalil yang shahih sanadnya dari para Ulama’ yang berpendapat seperti itu. Kemudian amalan sunnah yang lainnya dalam berwudlu’ adalah mengucapkan syahadat setelah berwudlu’. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam sabda beliau berikut ini: “Barangsiapa yang berwudlu’ kemudian setelahnya mengatakan: Asyhadu anlaa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu (artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah yang esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad itu adalah hambaNya dan RasulNya, pent), niscaya akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan untuk dia masuk dari mana saja yang dia suka.” Dalam riwayat lain bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyebutkan seperti itu juga tanpa menyebutkan: Barangsiapa berwudlu maka setelahnya dia berkata: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu .” (HR. Muslim dalam Shahih nya, Kitabut Thaharah Bab Al-Mustahab Aqbal Wudlu’ , dari riwayat Uqbah bin Amir Al-Juhaniy radliyallahu `anhu ).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa membaca bacaan ini setelah berwudlu’ adalah sunnah ( Syarah Shahih Muslim , Al-Imam An-Nawawi, juz 3 hal. 472). Hal yang sangat diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam adalah kelalaian banyak orang dalam membasuh kedua telapak kakinya, untuk membasuh telapak kaki bagian belakang. Sehingga bagian tersebut sering tidak terkena air wudlu’ dan tentunya yang demikian ini menyebabkan tidak sahnya wudlu’ tersebut dan berakibat pula tidak sahnya shalat yang dilakukan sesudahnya. Demikian ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam , ketika melihat seorang yang telah berwudlu’ tetapi dia meninggalkan bagian di kakinya tempat yang tidak terkena air wudlu’ sebesar satu kuku, dan hal ini dilihat oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam , maka beliaupun memerintahkan kepadanya untuk kembali berwudlu’ dengan cara yang lebih baik. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim An-Nisaburi dalam Shahih nya hadits ke 243, dari Umar bin Al-Khattab radliyallahu `anhu . Terhadap hadits ini Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Hadits ini menunjukkan bahwa barangsiapa meninggalkan sebagian kecil dari anggota badan yang wajib untuk dibasuh dengan air wudlu’, maka tidak sah wudlu’nya dan pendapat yang demikian ini telah disepakati oleh para Ulama’.” ( Syarah Shahih Muslim , Al-Imam An-Nawawi, juz 3 halaman 480). Bahkan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam ketika melihat seorang pria tidak mencuci telapak kaki bagian belakang, maka beliau mengingatkan: “Celakalah bagi telapak kaki bagian belakang yang tidak terkena air wudlu’ dengan jilatan api neraka.” (HR. Muslim dalam Shahih nya jilid 1, 2, 3 Kitabut Thaharah Bab Wujub Ghuslir Rijlain wastii`aabi jamii`i ajzaa’i mahalli ath-thaharaah halaman 480 no. 242 dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu ).   KESIMPULAN DAN PENUTUP Demikianlah mestinya pelaksanaan berwudlu’ sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dengan riwayat-riwayat yang shahihah menurut penjelasan para Ulama’ Ahlil Hadits. Dan bila berbagai pembahasan tersebut di atas kita simpulkan, maka cara berwudlu’ yang benar itu ialah sebagai berikut: 1). Berniat yang ikhlas karena Allah Ta`ala semata menunaikan wudlu’ untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam beribadah untuk-Nya. 2). Mengucapkan bismillah ketika akan memulai amalan wudlu’nya. 3). Membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan tangan dan menyilang-nyilangkan air di antara jari jemari tangan. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali dengan memulai dari tangan sebelah kanan. 4). Berkumur-kumur dan memasukkan pula air ke hidung sebanyak tiga kali. 5. Membasuh muka dengan menyilang-nyilangkan pula air wudlu’ itu di antara rambut jenggot dan cambang sehingga air wudlu’ itu merata mengenai seluruh bagian wajah sampai batas wajah dengan telinga dan rambut kepala. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. 6). Membasuh tangan sebelah kanan sampai ke siku dengan menyilangkan-nyilangkan air wudlu’ di antara jari jemari tangan. Dilakukan yang demikian ini sebanyak tiga kali. 7). Membasuh tangan sebelah kiri dengan cara yang serupa ketika membasuh tangan sebelah kanan. 8). Mengusapkan air wudlu’ ke kepala dengan cara mencelupkan kedua telapak tangan ke dalam air wudlu’ kemudian meletakkan keduanya di bagian depan kepala dan di jalankan keduannya pada bagian atas rambut kepala itu ke bagian belakang kepala (yakni ke tengkuk), kemudian keduanya dikembalikan lagi ke depan. Kemudian langsung mengusap kedua daun telinga dengan memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam lubang telinga serta mengusap dengannya bagian dalam telinga itu dan mengusapkan kedua ibu jari ke bagian belakang daun telinga. Hal ini dilakukan sekali. 9). Membasuh bagian kanan telapak kaki sampai ke mata kaki dengan menyilang-nyilangkan air wudlu’ ke jari jemarinya. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. 10). Melakukan perbuatan yang sama dengan telapak kaki sebelah kirinya seperti yang dilakukan di telapak kaki sebelah kanan. 11). Mengucapkan syahadatain setelah menjalankan seluruh amalan wudlu’ itu. 12). Disunnahkan untuk melebihkan dalam membasuh dan mengusap anggota badan yang harus dialiri air wudlu’ dari batas minimalnya. Yaitu membasuh kedua tangan sampai ke kedua ketiak, membasuh kepala sampai ke tengkuk dan leher, membasuh kedua telapak kaki sampai ke kedua lutut atau paha. 13). Menigakalikan atau menduakalikan dalam membasuh bagian-bagian badan yang harus dibasuh dalam berwudlu’ adalah sunnah. Sedangkan yang wajib adalah sekali bila diyakini bahwa air wudlu’ telah rata mengena seluruh bagian tubuh yang harus terkena. 14). Disunnahkan pula untuk menjalani wudlu dengan sesuai tertib urutan yang disebutkan di atas. Demikianlah cara berwudlu yang benar sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam . Dan kita menjalankan tuntunan tersebut, karena berwudlu’ adalah salah satu dari amalan ibadah yang harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan dengan tuntunan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam .

Al Ustadz Ja’far Umar Thalib

Posted by: mahfud07 | January 16, 2008

Memberi Nama Anak Mesti Nama Yang Baik

Sebagaimana pernah aku tulis dalam artikel khutbah Jum’at, salah satu kewajiban orang tua adalah memberikan nama yg baik pada anaknya. Hal ini dikarenakan:
1. Nama yg baik merupakan HAK dari anak.
Rasululloh SAW bersabda,“Seseorang datang kepada Nabi(SAW) dan bertanya,”Ya Rasululloh, apa hak anakku ini?” Nabi SAW menjawab,”Memberinya nama yg baik, mendidik adab yg baik, dan memberinya kedudukan yg baik (dalam hatimu)”.” (HR Aththusi)
2. Rasululloh SAW sendiri menyatakan bahwa nama yg diberikan kepada anaknya itu adalah DOA (orang tua kepada anaknya).

Terkait dengan pemberian nama ini, sudah banyak situs dan buku yg menyediakan nama (anak yang) baik, berasal dari berbagai negara dan bahasa. Ada yg menyediakan nama anak dalam bahasa Indonesia, Arab, Inggris, Jawa, bahkan Yunani. ***maaf, aku tidak menyediakan linknya…silakan anda googling sendiri ya…***

Tiap orang tua akan selalu ‘kelabakan’ menyediakan nama bagi anaknya, karena sudah fitrah orang tua (sebagaimana hadits Rasululloh SAW di atas) untuk memberikan nama yg terbaik bagi anaknya. Terkadang orang tua menyiapkan lebih dari 1 nama bagi anaknya (yg akan lahir). Biasanya 1 nama laki-laki, dan 1 nama perempuan, tujuannya yaaa jelas…agar mereka tidak kelabakan (lagi) memberikan nama yg sesuai dengan jenis kelamin anaknya.

Namun, 1 nama pun terkadang masih belum cukup. Pengalaman yg pernah aku baca, saat anak laki-laki si Fulan lahir, sebenarnya dia sudah mempunyai 1 nama untuk diberikan. Namun, mendadak ada ‘request’ dari istrinya…karena ternyata istrinya tidak sreg dg nama yg telah disiapkan. Walhasil, mereka berdua rembukan lagi untuk mencarikan nama bagi anaknya. Setelah sekian lama, akhirnya dapat juga…dan akhirnya nama yg kedua ini yg diberikan ke anaknya saat akikahan.

Oke…kembali ke masalah pemberian nama….

Seorang anak kenalan ibuku, mempunyai nama yg cukup panjang, yakni terdiri dari 6 (ENAM) SUKU KATA. Bisa anda bayangkan…?? Ini tidak lain karena orang tua sang anak, kenalan ibuku, meminta kepada orang tua masing2 untuk ‘menyumbang’ nama bagi anak mereka. Walhasil, nama yg ‘disandang’ si anak menjadi cukup panjang. ***aku sedikit geli, jika saat SPMB, si anak mesti menuliskan nama lengkapnya, apakah formulirnya cukup?? hihihi..***

Meski tidak ada larangan dalam meminta kepada orang tua untuk memberi nama bagi anaknya, namun, aku berpedoman pada hadits Rasululloh SAW di atas, hendaknya ORANG TUA yg memberi nama. Adapun sang kakek-nenek, cukup sumbang saran…namun jangan dijadikan patokan. Namun, itu berserah kepada diri masing2 orang tua.

Baik…kita lanjutkan topiknya…

Bagaimana kriteria nama yg baik?
Hmmm….aku sempat diskusi dengan bapakku + ustadzku mengenai definisi+pemberian nama yg baik. Beliau berdua menyarankan hal yg sama, yakni sebaiknya nama anak diambil dari Al Qur’an, namun tetap MEMPERHATIKAN MAKNANYA, karena tidak semua hal dari Al Qur’an sifatnya/berarti baik.

Sebagai contoh, JAHANAM. Meski kata ini berasal dari Al Qur’an, jelas kata jahanam tidak berkonotasi baik, karena dia merujuk pada JENIS NERAKA. Kemudian, ada juga kata THAGUUT. Sekilas kata ini nampak ‘keren’, namun jika kita tahu artinya adalah SETAN, maka orang tua yg ‘normal’ tidak akan mau memberikan kata ini menjadi nama anak mereka. Lalu ada juga kata FARJI, yg berarti KEMALUAN.

Well…dari sekian contoh kata yg diambil dari Al Qur’an, jelas ada kata2 yg tidak layak dijadikan nama anak. Lalu, apa kata2 dari Al Qur’an yg cocok dan tepat dijadikan nama anak?

Jika kita ingin punya anak yg pengasih, maka kata RAHMAN cocok untuk dijadikan nama. NAMUN, mesti diperhatikan bahwa kata Rahman tersebut HARUS digabung (ditambahkan) kata lain, karena (AR) RAHMAN merupakan NAMA ALLOH SWT. Sehingga sebagai makhluk-Nya, yg ‘tidak layak’ menyandang kata Rahiim (saja), kita tambahkan kata Abdul atau kata lain. Misalnya diberikan nama Abdul Rahman, berarti seorang hamba yg (bersifat) pengasih. Atau Muhammad Andi Rahman, atau contoh lainnya (Muhammad Fahmi Aulia bisa juga menjadi contoh lho…hihihi…).

Yang jelas, JIKA KITA HENDAK MENGGUNAKAN NAMA ALLOH SWT (ASMAUL HUSNA) SEBAGAI NAMA ANAK, MAKA (SEPERTI AKU TULIS DI ATAS) HENDAKNYA DITAMBAHKAN NAMA/KATA TAMBAHAN.

Di beberapa contoh nama anak, nama nabi juga bisa dijadikan acuan untuk menjadi nama. Ibrahim, Isa, Muhammad, Ismail, merupakan nama nabi yg bisa dijadikan nama anak.

Terkadang, nama seseorang sedikit identik dengan marga/suku bangsa. Nasution, Siregar, Harahap merupakan contoh nama dari suku Batak. Dadang, Asep, Ujang, biasanya identik dengan suku Sunda. Joko, Darojatun, Basuki, identik dengan suku Jawa. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Bahkan, seringkali hubungan nama dan suku bisa kita lihat dari susunan nama. Kinkin Sodikin, Maman Budiman, Jaja Subagja menunjukkan mereka berasal dari Sunda. Joko Supriyanto, Eko Susanto, Nurcahyo (halo mas Cahyo, hehehe..) pokoknya yg banyak huruf ‘O’ identik dg suku Jawa. Dan masih banyak lagi.

So, dengan pedoman di atas, hendaknya kita bisa mulai berpikir untuk menyiapkan nama yg baik bagi (calon) anak kita nanti agar anak kita bisa menjadi seperti yg diharapkan (sesuai dg doa kita), menjadi orang yg baik, berguna bagi manusia lain. Ujung-ujungnya, akan berimbas juga kepada kita, orang tuanya.

Berikut adalah 5 kasus unik, terkait dengan pemberian nama:
1. Tidak ada orang (perempuan) Sunda yg bernama Ice Juice, karena jika dibaca bukan i-ce ju-ice, tapi akan dibaca es jus…hihihi…

2. Cerita temanku, kenalannya mempunyai anak yg diberi nama AMAL FIRAT. Sekilas namanya ‘berbau’ Arab dan menarik. Tapi, jika kita baca dari kanan, maka kita akan melihat TARIF LAMA sebagai nama anak tersebut. Usut punya usut, ternyata anak mereka lahir di taxi yg mengenakan tarif lama. Hehehe…

3. Seorang teman bernama Yosep. Namun ternyata dia beragama Islam. Ternyata Yosep = Yusuf, nama seorang nabi. Hanya saja nama Yosep merupakan ‘lafadz’ Yusuf dalam bahasa Inggris. Jadi, mesti diperhatikan juga padanan kata dalam bahasa lain, di luar bahasa Indonesia.

4. Nama Anang, ternyata mempunyai arti yg menggelikan bagi sebagian masyarakat Indonesia, terutama di daerah Kalimantan. Karena Anang artinya DAHI, dalam bahasa setempat. Jadi, jika memungkinkan, dilakukan survei terhadap arti dari nama seseorang di daerah lain.

5. Usul ‘gila’ (tapi masuk akal) dari ustadzku. Beliau menyarankan nama tiap anak = ayat Al Qur’an. Jadi, misalkan punya anak 7 orang, maka anak pertama = ayat pertama, anak kedua = ayat kedua, dst. Nah, jika hendak memanggil semua anaknya, sang ortu cukup teriak,”AL FATIHAH…KUMPUUULL…”. Aku terkekeh-kekeh mendengar usulan ustadzku ini. Ada-ada saja beliau…heheh..

So, mudah2an artikel ini berguna bagi calon orang tua yg hendak mencari nama bagi anak mereka.

Dapatkan nama anak islami di bawah ini :

http://www.4shared.com/file/32667782/afbc471a/nama_anak_islami.html

Mahfud

Posted by: mahfud07 | December 12, 2007

Sembilan renungan kehidupan

Kita bangun tidur di waktu subuh dan kemudian membasah wajah dengan air wudlu yang segar. Sesudah melaksanakan sholat dan berdoa. Cobalah menghadap cermin di dinding. Di sana kita mulai meneliti diri :

 1.Lihatlah

kepala kita! Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba fana tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia di dalam pikirannya?

2. Lihatlah mata kita! Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?

3. Lihatlah telinga Kita! Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan buat mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?

4. Lihatlah hidung Kita! Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium istri, suami dan anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak papa yang kehilangan cinta bunda dan ayahnya?

5. Lihatlah mulut kita! Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna dan berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti: bergibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?

6. Lihatlah tangan Kita! Apakah sudah kita gunakan buat bersedekah, membantu sesama yang kena musibah, mencipta karya-karya yang berguna atau kita gunakan untuk mencuri, korupsi, menzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta-harta orang yang tak berdaya?

7. Lihatlah kaki Kita! Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat menuntut ilmu bermutu, ke tempat-tempat pengajian yang kian mendekatkan perasaan kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?

8. Lihatlah dada Kita! Apakah di dalamnya tersimpan perasaan yang lapang,sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riya?

9. Lihatlah diri kita! Apakah kita sering tadabur, Tafakur dan selalu bersyukur pada karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?

Posted by: mahfud07 | December 3, 2007

bahagia

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata. Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti. Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati. Untuk menyadari, betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri. Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati, berusaha meraih yang tidak dapat diraih, memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada.

Manusia buta, karena egois dan hanya memikirkan diri, tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar karena serakah.

Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan, karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri. Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang sejati. Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang, selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.

Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan no. satu dalam satu hal, belum tentu dalam hal lain, dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri, jikalau berharap dari orang lain, siaplah ditinggalkan, siaplah dikhianati. Kita akan bahagia bila bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain. 

ercayalah kepada Tuhan, dan bersyukurlah kepadanya, bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati, Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari. Berusaha dan bahagialah karena kita dicintai begitu banyak orang.

spb2.jpg

Posted by: mahfud07 | December 3, 2007

berfikir positif

Hanya dengan berpikir positif

tentang diri kita dan

kejadian-kejadian yang terjadi

dalam hidup kita,

kita dapat menjadi periang dan sehat.

Posted by: mahfud07 | December 1, 2007

cara yang sempurna

Belajar Mencintai Orang Yang Tidak Sempurna Dengan Cara Yang Sempurna

Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan, itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, Itupun adaah kesempatan.Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu Dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.Perasaan cinta, simpatik, tertarik, Datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Berbicara tentang pasangan jiwa, Ada suatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat : “Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil” Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang Yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak… Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, Adalah pilihan yang harus kita lakukan. Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

Posted by: mahfud07 | December 1, 2007

tangis dan senyum

Waktu kamu lahir, kamu menangis

dan orang-orang dis ekelilingmu tersenyum,

jalanilah hidupmu

sehingga pada waktu kamu meninggal,

kamu tersenyum

dan orang-orang disekelilingmu menangis.  

Older Posts »

Categories